Sertifikasi kompetensi sebagai wujud penilaian profesionalisme SDM merupakan sebuah keniscayaan yang secara filosofis sudah diajarkan oleh Allah SWT sebagai pencipta manusia dan alam semesta. Dalam Al Quran surah Al Baqoroh : 30 – 33, Allah mengilustrasikan proses penciptaan manusia yang akan diperuntukkan sebagai khalifah di bumi.

Dengan kehendak dan kekuasaan Nya, Allah bisa saja langsung menciptakan manusia dan menugaskannya sebagai pemimpin di muka bumi. Namun dengan indahnya Allah menggambarkan proses penciptaan itu dengan melibatkan malaikat, yang ‘memprotes’ kehendak Allah tersebut. Sampai Allah harus memberikan semacam tes bagi malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda yang belum pernah diajarkan Nya kepada mereka. Malaikat menyerah karena bagi mereka tidak memiliki ilmu selain yang telah diajarkan kepadanya.

Maka Allah pun menanyakan hal yang sama kepada Adam, yang sebelumnya telah diajarkan nama-nama benda tersebut. Adam pun menyebutkan nama-nama benda tersebut dengan benar.

Ini menggambarkan sebuah proses penilaian secara obyektif terhadap kemampuan seseorang untuk menempati suatu posisi. Dengan metode tersebut akhirnya malaikat mengakui kompetensi yang ada pada Adam, sekaligus mengakui kelemahan dirinya untuk posisi yang tidak cocok tersebut.

Inilah sebuah contoh uji kompetensi yang dilakukan untuk suatu posisi tertentu yang digambarkan dengan begitu indah di dalam penciptaan manusia sebagai kholifah di muka bumi. Sebuah proses obyektif dan transparan yang dapat memberikan penilaian tentang kemampuan seseorang, sehingga orang tersebut cocok untuk sebuah peran atau posisi, ataukah tidak.

Contoh indah juga digambarkan oleh Rasulullah SAW ketika hendak mengutus Muadz bin Jabal sebagai gubernur di Yaman. Sebelum penugasan itu Rasul memberikan beberapa pertanyaan kepada Muadz dalam sebuah Hadits yang cukup masyuhur. Rasul menanyakan kepada Muadz, dengan apakah ia akan menghukumi persoalan yang akan muncul di tengah-tengah ummat? Maka Muadz pun menjawab: dengan Al Qur’an. Jika tidak ditemukan di dalam Al Qur’an? Tanya Rasul. Maka aku akan merujuk pada Hadits Nabi, jawab Muadz. Maka Rasulpun bertanya lagi; jika di dalam Hadits juga tidak kamu temukan? Akun akan berijtihad, jawab Muadz.

Dengan jawaban-jawaban itupun akhirnya Rasul merasa yakin menugaskan Muadz bin Jabal sebagai gubernur Yaman, karena kemampuan dan kompetensinya yang sangat cocok untuk kebutuhan posisi dia sebagai gubernur. Itulah contoh yang diajarkan oleh Nabi untuk melakukan semacam ‘uji kompetensi’ bagi sahabat untuk sebuah tugas penting.

Penyelia Halal yang bertugas menjaga kehalalan produk yang dihasilkan, merupakan sebuah jabatan yang sangat penting dan strategis dalam mengawal kehalalan produk yang beredar di Indonesia. Ia juga dijamin dalam Undang-undang No 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Oleh karena itu profesi ini juga harus ditunjang oleh standar kompetensi untuk menjaga dan memerankan fungsi tersebut secara baik.

Maka keberadaan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI ) di bidang Penjaminan Halal menjadi sebuah hal penting sebagai standar kompetensi dalam melakukan penilaian terhadap penjaga kehalalan tersebut. LSP LPPOM MUI mencoba memformulasikan SKKNI No 215 tahun 2016 tersebut dalam sebuah skema sertifikasi okupasi nasional penyelia Halal.

Uji kompetensi ini harus dilihat dalam perspektif luas sesuai dengan semangat mengawal kehalalan produk yang beredar dan dikonsumsi masyarakat.  Dalam rangka meningkatkan kualitas dan profesionalisme sumberdaya manusia untuk menjaga kehalalan, profesi ini merupakan profesi penyelia Halal pertama di dunia. Maka jangan ragu, jadilah pejuang-pejuang Halal yang tangguh dan kompeten melalui sertifikasi profesi penyelia Halal.

Ir. Nur Wahid, M.Si
Kepala LSP